Chapter 73 : The Holder Of Triumph

From theholders.org

Translate by Admin

Di kota manapun, di negara manapun, pergilah ke perpustakaan manapun yang bisa kau datangi. Temuilah si pustakawan (Librarian) ditempat tersebut dan mintalah kepadanya untuk bertemu dengan “Sang Penjaga Kemenangan” [The Holder Of Triumph]

Dia akan menatapmu dengan pandangan bosan. Dia kemudian akan menanyakan satu pertanyaan padamu. “Kau yakin bisa mengalahkannya?”

Jawablah dia dengan suara yakin “Aku tidak mengenal hal lain selain keberhasilan.”

Pustakawan itu akan menilaimu beberapa detik sebelum memutuskan akan membantumu atau tidak. Jika dia memutuskan untuk tidak membantumu, dia akan mengusirmu dari perpustakaannya. Ingatlah bahwa diusir adalah sebuah perlakuan yang paling baik kepadamu daripada harus menghadapi kemurkaannya.

Jika dia memutuskan untuk membantumu, dia akan mengeluarkan sebuah belati dari laci mejanya dan memberikannya kepadamu. Kemudian dia akan menuntunmu ke bagian terdalam perpustakaan. Bagian terdalam itu adalah tempat dimana buku-buku terlarang dan catatan-catatan paling mengerikan dalam sejarah disimpan. Bagian itu berada jauh di bawah tanah dengan rak-rak buku yang sangat tinggi.

Sesekali kau akan menyadari beberapa pengunjung tengah membaca di bagian terdalam perpustakaan itu. Semakin lama kau memperhatikan, kau akan sadar bahwa tidak semua pengunjung di bagian terdalam itu adalah manusia. Abaikan saja mereka dan biarkan mereka melakukan kegiatan mereka masing-masing. Kau tidak ingin tau apa yang terjadi kepada orang-orang yang menggangu mereka yang tengah fokus membaca.

Si pustakawan itu akan mengarahkanmu ke depan sebuah pintu. Pintu itu sangat tinggi, bahkan tingginya mungkin seukuran dengan rak-rak buku yang kau lihat saat perjalanan kesini.

Dia kemudian akan mengetuk pintu itu tiga kali. Ketukannya akan membuat pintu itu terbuka dan dia akan memberimu isyarat untuk masuk—dia tidak akan menemanimu setelah titik ini, jadi kau tidak usah repot-repot untuk menunggunya.

Dibalik pintu itu, akan terdapat sebuah lorong serba putih. Lantainya putih, temboknya putih, langit-langitnya pun putih. Bahkan, kau boleh menyebutnya sebagai putih yang tidak wajar karena seteliti apapun kau melihat, kau tidak akan bisa menemukan debu satupun.

Susuri lorong itu sampai kau menemukan sebuah ruangan. Ruangan yang kau cari itu akan sangat kontras dengan keadaan yang serba putih. Ruangan itu akan sangat gelap dan pekat. Bahkan cahaya yang menyinari lorong putih sebelum ruangan itu, tidak mampu memasuki ruangan itu sama sekali.

Masukilah ruangan itu dengan yakin.

Di tengah ruangan itu, akan ada sebuah cahaya remang yang bersinar. Disinari oleh cahaya itu, akan terdapat sesosok patung keramik yang memegang sebuah piala dengan tangan kanan-nya. Wajah patung itu, akan menyerupai sosok Adonis (Dewa Ketampanan dan Nafsu dari mitologi Yunani). Tangan kiri patung itu akan memegang sebuah tombak.

Cahaya di ruangan itu akan memiliki sebuah pola. 1 menit menyala, dan 1 menit mati. 1 menit menyala dan 1 menit mati. Pola itu akan terus berulang-ulang saat kau ada di dalam ruangan itu.

Lampu menyala artinya kau boleh bergerak,

sedangkan lampu mati artinya dia lah yang akan bergerak.

Saat dia bergerak, maka gilianmu lah yang harus diam di tempat. Tugasmu adalah mencuri piala yang dia pegang.

Kau memiliki belati (yang diberikan oleh pustakawan tadi), dan dia memiliki tombak. Kau boleh menggunakan belatimu untuk memotong tangannya. Namun dengan belati kecil itu, nampaknya tidak cukup kuat untuk memotong sebuah patung keramik dalam sekali tebas (Kau mungkin harus menyayat tangannya puluhan atau ratusan kali agar bisa putus)

Disisi lain, tombak yang dia pegang akan membunuhmu dalam sekali serang. Jika tatkala mati lampu kau bergerak barang sedikit saja, dia akan langsung menikam jantungmu dengan tombaknya. Bahkan jika gerakan itu adalah gerakan pernafasan (Tahan nafasmu selama lampu mati agar dadamu tidak bergerak).

Tidak akan ada batas waktu dalam pertarungan kalian ini. Luangkan waktumu untuk memilirkan strategi demi kemenanganmu.

Pertarungan ini adalah pertarungan yang sulit, namun bagimu, mungkin menang hanyalah satu-satunya upaya untuk keluar dari tempat itu hidup-hidup. Strategi apapun yang kau gunakan terserah padamu, selama kau masih bernafas, masih ada kesempatan untuk mengalahkan si patung. Disisi lain, kematianmu adalah kemenangan baginya.

Jika kau berhasil memisahkan piala itu dari tangannya, maka piala itu akan menjadi milikmu.

Piala itu adalah objek ke-73 dari 538.

“Perjalanan ini adalah tentang 2 pilihan, antara menang atau mati.”

Baca Cerita The Holders Series Lainnya.

Adonis, when he’s using his ultimate be like :

Tag : Cerita Horor, The Holder Bahasa Indonesia, Creepypasta

Yth Pembaca,
Mohon jangan copas sembarangan artikel di blog ini, buatnya susah gan. Mengutip boleh, namun mohon sertakan sumber backlink ke blog ini. Terima Kasih

0 Response to "Chapter 73 : The Holder Of Triumph"

Post a Comment