Chapter 74 : The Holder Of The Mark

From theholders.org

Translate by Admin

Di kota manapun, di negara manapun, pergilah ke institusi mental atau rumah rehabilitasi yang bisa kau kunjungi. Saat kau mencapai meja depan, mintalah ke resepsionis untuk mengunjungi seseorang yang memanggil dirinya “Sang Penjaga Tanda” [The Holder of the Mark]

Si resepsionis akan mematung terkejut, wajahnya akan memancarkan rasa kaget atas apa yang kau minta. Seolah, dia sejak lama sudah mengetahui kalau hari kedatanganmu pada akhirnya akan tiba juga.

Dengan gugup ia akan memberitahumu bahwa tidak ada orang semacam itu di tempat ini. Bujuk dia sebisamu, gunakan tipu muslihat apapun yang kau bisa agar dia menyerah dan mau menuntun jalanmu.

Jika kau berhasil membujuknya, Ia akan membimbingmu menuju sebuah lorong panjang. Ukuran lorong itu akan semakin mengecil seiring kau menyusurinya. Bahkan di suatu titik, kau harus berjalan membungkuk untuk tetap melanjutkan perjalananmu.

Di akhir lorong itu, akan terdapat sebuah pintu, namun untuk mencapai pintu itu, kau harus merangkak. Hukum di ruangan itu akan terus berlaku dimana semakin jauh kau berjalan, maka semakin mengecil pula lorong yang harus kau lewati

Pintu itu sepenuhnya normal. Pintu tersebut akan terlihat seperti sebuah pintu panic room atau pintu-pintu kecil yang mungkin pernah kau lihat di tempat-tempat tertentu yang pernah kau kunjungi. Bedanya, di tengah pintu itu akan tergambar sebuah “TANDA SERU” besar yang membentang dari bagian atas sampai bagian bawah. Sedangkan di knopnya, akan terdapat sebuah “TANDA TANYA” kecil.

Ini adalah kesempatan terakhirmu jika kau ingin kembali. Jika kau memiliki sedikit saja keraguan dalam hatimu, maka berbalik lah dan pergi. Pulanglah dan lupakan segala hal tentang pencarianmu. Aku jamin bahwa tidak akan ada Konsekwensi apapun yang akan menyertaimu selama kau belum melewati pintu tersebut.

Disisi lain, jika kau sudah memantapkan hati dan sudah siap dengan segala resiko, maka bukalah pintu itu dan masuk.

Dibalik pintu itu adalah sebuah galeri berukuran besar. Galeri yang menampakan berbagai macam lukisan. Lukisan-lukisan itu akan menggambarkan makhluk-makluk yang tidak biasa. Sebagian diantaranya cantik dan rupawan sedangkan sebagian lain mengerikan dan buruk rupa.

Dipojok galeri itu, akan terdapat sesosok (menyerupai) manusia yang tengah melukis. Dia akan mengenakan sebuah topeng dengan dua ekspresi, Setengah senang dan setengah sedih.

Melihat kedatanganmu, dia kemudian akan menoleh padamu. Kemudian, dia akan berkata : “Duduklah, aku akan menjawab pertanyaanmu.”

Kau mungkin hanya akan melihat satu kursi yang bisa kau duduki. Kursi itu akan ada 1 meter didepan sosok itu dan kanvasnya.

Tidak ada 1 menit kau duduk, kau akan menyadari kalau dia akan terus melukis dan sesekali memperhatikanmu, seolah, dia tengah melukismu. Yap, dia secara sengaja membuatmu menjadi model lukisannya.

Tanyakanlah sebuah pertanyaan padanya. Kau boleh menanyakan apapun, Bahkan pertanyaan-pertanyaan pribadi. Namun ku sarankan untuk bertanya seputar Topik-topik yang bersangkutan dengan The Holders. Mempertimbangkan, kalau informasi akan hal tersebut mungkin dapat membantumu suatu hari nanti.

3 pertanyaan adalah batasmu. Bertanya lebih dari itu, maka akan mendatangkan rasa tidak suka darinya dan mungkin saja kematian untukmu.

Disisi lain, Jika kau memutuskan untuk diam dan tidak bertanya sama sekali, maka dia akan menyebutmu dengan sebutan yang mirip seperti ‘Pendiam/ansos/membosankan’ dan sebagainya. Namun seiring waktu, dia lah yang akan bercerita.

Cerita-cerita darinya adalah sebuah cerita tentang wujud asli Jiwa manusia. Cerita tentang dosa-dosa mereka dan wujud Jiwa mereka yang bermacam-macam jika dilihat dengan sudut pandang tertentu. Rupa Jiwa mereka bisa sangat menawan bisa juga sangat buruk, hal ini seakan menjelaskan tentang lukisan-lukisan yang kau lihat di dinding-dinding galeri ini.

Setelah selesai dengan lukisannya. Dia akan berdiri dan menatapmu. Saat ini, dia akan menjelaskan apa yang barusaja dia lukis. Lukisan itu adalah bentuk sejati dari Jiwamu, Dia kemudian akan menawarkan padamu apakah kau ingin melihatnya.

Rasa penasaran yang kuat akan menghampirimu. Keingin-tahuan akan apakah Jiwamu itu termasuk sosok  ‘Rupawan’ atau ‘Buruk rupa’ akan menimbulkan ketertarikan akan tawarannya. Perasaan tersebut akan sangat susah untuk ditolak, namun kau harus berusaha menolaknya.

Jangan tertipu, Melihat lukisan itu artinya kau bersedia memberikan nyawamu kepadanya. Ingatlah bahwa kebenaran kecil akan dirimu tidak sebanding akan nyawamu.

Disisi lain, Sebutkanlah maksud dan tujuan aslimu kemari. Katakan padanya tentang Kau yang ingin memiliki Obyek yang dijaga The Holder Of The Mark. Katakan juga apa yang akan kau lakukan jika kau sudah memilikinya.

Si pelukis itu akan menatapmu sebentar, Dia kemudian akan beralih ke lukisannya seakan mencoba mencocokan ucapanmu dengan apa yang dia lihat dari ‘wujud aslimu’ di kanvas miliknya.

Jika dia menolak memberikan apa yang kau minta, dia akan dengan perlahan membuka topengnya dan memperlihatkan wajah aslinya. Mengetahui wajahnya aslinya tidak akan berguna untukmu karena upaya apapun yang kau lakukan setelahnya, hanya akan membuat kematianmu semakin menyakitkan.

Jika dia memutuskan untuk mempercaiayimu, dia akan mendekatimu. Tanpa melepas topengnya, dia kemudian akan menyerangmu. Dengan sekali gerakan, dia akan menancapkan kuasnya ke mata kirimu.

Rasa sakit yang kau rasakan akan membuatmu meronta-ronta di lantai sebelum akhirnya pigsan. Kau akan terbangun di Toilet umum terdekat dengan rasa sakit di matamu yang masih terasa. Mata kirimu akan hancur dan tergantikan yang baru. Di tengah mata barumu itu, akan terdapat sebuah tanda.

Tanda itu adalah objek ke-74 dari 538.

“Tanda itu akan membuatmu dapat melihat “Wujud asli” dari dunia ini. Kau dapat melihat wujud asli dari Jiwa manusia. Kau juga dapat melihat bangunan-bangunan jahat yang disamarkan menjadi Toko-toko, bar, sekolah dan sebagainya. Benda-benda terkutut yang sengaja diubah bentuknya menjadi alat-alat sehari-hari juga tidak akan lepas dari penglihatanmu.

Satu hal yang tidak bisa kau lihat adalah bentuk jiwamu sendiri. Melihat ke cermin tidak akan membantumu. Kebenaran akan jiwamu hanya bisa kau lihat di Lukisan yang disimpan di Galeri milik The Holder Of The Mark. Yang, sayangnya saat ini tidak akan dapat kau masuki lagi.”

Baca The Holder Series Lainnya

Tag : Cerita Horor, The Holder Bahasa Indonesia, Creepypasta.

Yth Pembaca,
Mohon jangan copas sembarangan artikel di blog ini, buatnya susah gan. Mengutip boleh, namun mohon sertakan sumber backlink ke blog ini. Terima Kasih

0 Response to "Chapter 74 : The Holder Of The Mark"

Post a Comment