Chapter 81 : The Holder Of Simplicity | UNSOLVED INDONESIA
Beranda - Kasus - Geek - Riddle - Lost Notes - Horror Story - About Blog - Kontak Admin

Chapter 81 : The Holder Of Simplicity

From theholders.org

Translated by Admin

Di kota manapun, di negara manapun, pergilah ke sekolah atau universitas yang cukup besar yang bisa kau temui. Saat kau sampai di resepsionis, mintalah untuk menemui seseorang yang menyebut dirinya “Sang Penjaga Kesederhanaan” [The Holder Of Simplicity]

Jika Si Pegawai mengeluarkan sebuah teriakan yang memekakan, tutup matamu dan gunakan kedua tanganmu untuk menutup telinga. Jangan pergi, karena kau telah datang ke tempat yang tepat.

Dengan melanjutkan niatmu, cobalah bertanya lagi untuk kedua kalinya. Jika dia mengabaikanmu dan malah melanjutkan kegiatanya menulis, maka pergilah dari situ. Orang itu sudah menolak permintaanmu dan kau sebaiknya jangan memaksanya lebih lanjut.

Hal Benar yang seharusnya terjadi, tatkala kau bertanya untuk kedua kalinya, ia biasanya akan segera tenang dan memintamu untuk mengikutinya.  Ia akan membimbingmu ke jalan yang salah, dan dia akan terus mengajakmu belok ke kanan di setiap cabang lorong yang kalian lewati. Dia akan menuntunmu menuju ke lorong sekolah yang sepertinya tak berujung.

Hitung berapa banyak belok kanan yang kau lewati—setelah belok kanan yang ketujuh, menyelinaplah secara perlahan dan beloklah kekiri. Jangan sampai si pegawai tau kalau kau sudah tidak mengikutinya.

Jangan sampai kau salah belok, karena belokan lain selain belokan ke tujuh, akan membawamu ke sebuah lorong labirin yang sangat membingungkan. Dan keluar dari labirin itu mendekati kata mustahil.

Jika kau berhasil menyelinap pergi dari Si Pegawai, berjalanlah santai dan carilah sebuah papan bulletin di sekelilingmu. Akan ada banyak sekali pengumuman berwarna-warni yang tertempel di sana, dengan jajaran gambar yang menarik hati beserta rincian kegiatan-kegiatan yang begitu menyenangkan.

Jangan terlena akan hal-hal tersebut - mereka mencoba menyembunyikan apa yang kau cari. Carilah selembar kertas putih sederhana yang hampir seluruhnya ditindih oleh kertas-kertas lain. Catatlah nomor ruangan, kemudian lihat waktu kegiatan yang tertera di kertas pengumuan tersebut. Tanggalnya akan selalu hari ini, dan itu merupakan tanggal yang benar.

Namun semisal, dengan kemungkinan sangat kecil bahwa tanggal yang tertera tidak akan menunjukkan hari ini, maka artinya mereka sudah tau akan kedatanganmu. Dan menuju ke tempat kegiatan tersebut pun akan percuma saja karena hanya akan ada kematian yang menunggumu disana.

Jika waktunya belum terlewat, mulailah untuk mencari ruang kelas yang dimaksud diantara lorong-lorong disekitarmu. Penomorang ruang-ruang yang ada disitu akan luar biasa acak, dan akan sangat membebanimu menemukan ruang yang benar. Namun kau tidak akan punya pilihan lain selain menemukan ruangan yang benar karena sementara kau mencari, mereka akan mulai berkumpul.

Jika dengan ajaibnya kau berhasil menemukan ruangannya, masukilah dengan cepat dan tutup pintunya. Ambil benda apapun disitu untuk kau gunakan sebagai alat pertahanan diri. Siapkan dirimu apabila mereka berhasil sampai kesini sebelum kau menyelesaikan urusanmu.

Mereka adalah pemburu-pemburu yang keji. Ras mereka dikutuk dengan darah sehingga mereka memiliki hasrat tak tertahankan untuk membunuh makhluk “berdenyut nadi” sepertimu. Mereka adalah ras peniru bentuk, menyamarkan rupa-rupa buruk mereka menjadi wajah-wajah bersahabat manusia. Tertangkap oleh mereka akan memberimu sebuah kematian yang lambat, karena mereka tidak akan membiarkanmu mati sebelum “bermain-main” terlebih dahulu.

Saat kau yakin kau sudah aman. Lanjutkanlah urusanmu di ruangan tersebut. Ruangan tersebut adalah sebuah ruang kelas biologi dengan dekorasi yang tidak biasa. Cat ruangannya terkesan menjijikkan—warna-warni buruk berbau anyir masih terlihat menetes, seakan baru saja dioles di setiap permukaan ruangan.

Terdapat poster-poster berbaris di dinding. Poster-poster itu terpampang dengan gambar-gambar anatomi dari makluk-makluk yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Di dalam ruangan itu, juga terdapat buku-buku yang ditulis dengan bahasa kelam yang telah punah tergeletak berserakan di lantai.

Namun ruangan itu kosong—hampir. Di ujung ruangan, akan ada seorang lelaki tengah berdiri dan berkutat didepan bangkai sesosok makhluk yang hampir mirip seperti salah satu poster di dinding. Lelaki itu nampak tengah membedah makhluk itu dengan penuh hati-hati menggunakan pisau bedah bermata panjang.

Dekati dia dengan perlahan.

Dia akan menyadari kedatanganmu (Bahkan, dia akan sumringah melihat kedatanganmu). Dia akan menghentikan kegiatannya untuk terfokus kepadamu, dengan nada gembira dia akan mengatakan bahwa dia sudah menunggumu begitu lama. Kemudian, dia akan mengatakan hal yang sangat Jujur—terlampau jujur.

Tanpa basa-basi, dia bersedia memberikan benda yang kau cari apabila kau mau menukarkan beberapa organ dalammu kepadanya. Kemudian, dia akan membeberkan daftar panjang organ-organ mana yang dia inginkan; dimulai dari otak, kedua paru-paru, Hati, lambung, usus, jantung dan ginjal.

Awalnya, kau mungkin akan sedikit lambat menerima permintaannya, karena permintaan itu begitu to the point dan tanpa basa-basi. Setelah cukup memproses, disinilah logikamu akan mengambil alih.

Sebagai orang yang setidaknya tau akan kematian, kau tentu saja akan paham bahwa manusia akan mati apabila setiap organ-organ itu diambil dari dalam tubuh.

Kau boleh memutuskan untuk menolak. Namun itu berarti pencarianmu berakhir. Sosok itu akan kecewa dan dia akan membiarkanmu pergi. Dia tidak akan memberikanmu konsekwensi apapun.

Namun dibilang harus pergi, kau harus menemukan kembali pintu keluarmu diantara labirin-labirin lorong diluar. Dan disepanjang labirin itu, mungkin di detik ini sudah dipenuhi para pemburu yang siap mencegatmu di setiap belokan yang ada.

Jika kau masih percaya akan pencarianmu. Bilang sajalah ke sosok itu bahwa kau bersedia memberikan organ dalam-mu. Jika kau mengatakan hal itu, maka kau akan dituntun ke meja operasi dan akan dilakukan pembedahan.

Kau akan dikekang di atas sebuah meja operasi yang sangat mustahil untuk dilepas. Di detik ini, sudah terlambat untuk mundur.

Dia akan menyambungmu dengan alat EKG yang cukup aneh. Alih-alih memperlihatkan denyutan jantung secara horizontal bergelombang, denyutan jantungmu akan nampak seperti sonar yang ada di alat navigasi kapal.

Kemudian, sebuah infus berisi cairan berwarna perak dia siapkan dan tanpa basa-basi akan dia suntikkan kepadamu. Seiring cairan perak memasuki pembuluh darahmu, rasa sakit tak tertahankan akan menjalar ke seluruh syarafmu. Rasa sakit itu akan membuatmu menggeliat berontak. Kemudian, di meja operasi tempatmu terbaring, kau akan banyak memuntahkan darah. Darah akan mengalir dari setiap lubang di tubuhmu seakan berusaha keluar dari tubuhmu sepenuhnya.

Jika kau tidak kuat, si ‘dokter’ tidak akan menolongmu. Tatapan ramahnya yang dia tujukan kepadamu tadi sudah sepenuhnya hilang dan sekarang hanya tersisa tatapan dingin. Melihatmu sebagai hal yang tidak lebih dari ‘kelinci percobaan’ miliknya.

Kemudian, saat darah sudah tidak keluar dari tubuhmu, dia akan memulai operasi untuk mengeluarkan organmu. Dia tidak akan repot-repot memberimu obat bius. Dia akan begitu saja membelah perutmu dan mengambil hal-hal yang dia inginkan. Rasa sakit yang akan kau rasakan akan sepenuhnya nyata.

Kau mungkin berharap kau akan pingsan dan akan melewati hal ini. Namun sayangnya kau tidak akan bisa pingsan bahkan tidur. Setiap detik tatkala dokter itu mengambil otak, paru-paru, jantung, ginal, lambung dan usus akan kau lewati dengan kesadaran penuh.

Kau akan sepenuhnya melihat kau tidak mati saat Jantungmu dia putus dari setiap pembuluhnya.

Saat seluruh organ yang dia minta sudah dicabut, dia akan menatapmu dalam. Menunggumu apakah kau akan meninggal dalam syok atau tidak. Jika iya, maka dia akan membawa mayatmu ke dalam sebuah ruangan. Ruangan yang diisi setidaknya ratusan atau bahkan ribuan tumpukan mayat para seekers (pencari) yang datang sebelummu. Menandakan bahwa mereka mengalami nasib yang sama denganmu.

Namun jika kau tidak mati. Dia akan menatapmu dengan penuh gairah. Seakan barusaja mendapatkan kandidat yang tepat untuk melanjutkan operasinya.

Operasi tahap dua belum pernah dilakukan olehnya, itulah kenapa, jika kau masih bisa hidup setelah organmu dilepas. Maka darah perak yang dia suntikkan untuk menggantikan darahmu tidak ditolak oleh tubuhmu dan bekerja sebagaimana mestinya.

Operasi tahap 2 akan lebih aneh dari tahap pertama. Dia akan mencangkokkan hal-hal tidak masuk akal kepada tubuhmu. Bahkan beberapa diantaranya adalah organisme hidup yang mirip seperti serangga seukuran kepalan tangan si dokter.

Setelah semua organ yang dia ambil digantikan oleh hal-hal aneh selesai, setiap sayatan yang ada di tubuhmu akan dijahit kembali dan kau akan dilepaskan.

Tubuhmu akan terasa aneh, kau masih memiliki ingatan meskipun otakmu hilang sepenuhnya. Kau masih bisa bernafas, meskipun paru-parumu sudah diambil. Kau mungkin akan menyimpan amarah kepada sang dokter tatkala kau sudah dilepaskan. Namun ingatlah bahwa itu semua adalah harga yang harus kau bayar untuk mendapatkan obyek yang memang dari awal ingin kau miliki.

Begitu dilepas, sang dokter akan melihatmu dengan tatapan kagum. Sekan dia sangat bangga dengan kreasinya sendiri. kemudian sang dokter itu akan mengeluarkan sebuah batu asah dari salah satu lemari. Itu adalah batu yang dia gunakan untuk mengasah pisau bedahnya. Dia kemudian akan memberikannya padamu, dan menyuruhmu pergi.

Tak usah bertanya lebih lanjut dan tinggalkanlah tempat itu. Di perjalanan keluarmu, para pemburu diluar tidak akan repot-repot menggangumu karena sekarang kau sudah tidak memiliki denyut nadi yang dapat mereka lihat dengan mata-mata picik mereka.

Batu asah yang ada di dalamnya adalah objek ke-81 dari 538.

“Jika digunakan di pedang atau pisau manapun, pedang atau pisau tersebut tidak akan pernah tumpul lagi, dan tidak akan ada yang mampu melawan tebasannya.”

“Sang dokter akan selalu menyambut kembali kreasi terhebatnya kapanpun jika ingin berkunjung.”

Baca Cerita The Holder Series Lainnya.

Catatan admin : Batu asah, kalau orang jawa nyebutnya ungkal. Itu lho, batu persegi panjang yang biasanya buat ngasah golok.

Tag : Cerita Horor, The Holder Series Bahasa Indonesia, Creepypasta

Yth Pembaca,
Mohon untuk tidak meng-copas artikel di blog ini sembarangan. Buatnya susah gan. Kalau mengutip boleh, tapi mohon sertakan sumber. Terima kasih.

0 Response to "Chapter 81 : The Holder Of Simplicity"

Post a Comment