v Chapter 6 : The Holder Of Song | UNSOLVED INDONESIA

Chapter 6 : The Holder Of Song


From theholders.org

Translated by Admin

Di kota manapun, di negara manapun, pergilah ke institusi mental atau tempat penampungan yang bisa kau datangi.Saat kau sampai di meja depan, mintalah ke resepsionis dan bilang kau ingin mengunjungi seseorang yang disebut “Sang Penjaga Lagu” [The Holder Of Song]

Kemudian kau akan dibimbing ke sebuah tangga spiral yang panjang memutar. Tangga itu akan terlihat lebih tinggi dari bangunan tersebut jika dilihat dari bawah. Kemudian di puncak tangga tersebut kau akan mendapati sebuah pintu.

Dibalik pintu, Kau akan mendapati sebuah lorong panjang yang mengeluarkan  gelombang panas. Gelombang panas itu bisa kau rasakan sedetik setelah kau membuka pintu.

Selama kau berjalan, udara di sekitarmu akan bertambah dingin. Semakin dalam kau berjalan dan hawa dingin itu akan semakin tidak masuk akal. Bahkan di suatu titik, kau akan merasa seakan tubuhmu terbungkus kristal es. Terlepas dari tidak terlihat apapun yang menepel di kulitmu.

Saat itu terjadi (merasa terbungkus kristal es), kau harus menghentikan langkahmu dan berdiamlah sesaat. Rasakan keheningan dan dengarkan kehampaan yang ada.

Jika, setelah beberapa detik terlewat, kau mendengar tangisan bayi, berbaliklah dan lari. Tak akan ada kekerasan yang menimpamu, hanya saja, tangisan bayi itu akan terus mengikutimu bahkan sampai kau keluar dari gedung itu.

Jika kau mendengar tangisan bayi itu sepanjang sisa hidupmu, maka kau termasuk orang yang beruntung. Namun Jika suatu saat tangisan itu berhenti, maka di detik itu juga anak pertamamu akan mati.

Disisi lain, semisal kau tak mendnegar suara bayi menangis, tunggulah agar lorong kembali hangat, dan kemudian majulah sampai ke pintu di ujung lorong. Masukilah pintu itu.

Ruangan di dalamnya akan bermandikan cahaya hijau. Di tengah-tengah ruangan akan ada seorang wanita tua yang sedang sibuk memutar tuas kotak musik yang tak mengeluarkan suara. Wanita itu secara fisik cacat karena dia tidak memiliki kaki.

Saat kau berbicara padanya, kau harus melihat matanya. Ia menyembunyikan sebuah tombak kuno di dalam tulang kakinya. Memalingkan pandangan, maka ia akan menusukmu dengan tombak itu dan membiarkanmu mati kehabisan darah

Ia  hanya akan merespon satu pertanyaan “Apa lagu yang pernah mereka mainkan?”

Tanyakan padanya pertanyaan itu dan wanita tua itu akan mulai menyanyi dengan bahasa yang tidak pernah terdengar di dunia ini. Melodinya akan jadi melodi paling indah yang pernah kau dengar, membawa kedamaian dan ketenangan bagi pikiran, raga, dan jiwamu.

Otakmu akan mulai membayangkan dengan jelas sekelompok anak-anak riang yang bermain musik dan menyanyi, sepolos dan seriang mungkin bak malaikat yang sedang bersuka cita. Dan dalam hitungan menit, pemandangan itu akhirnya akan berubah menjadi sangat mengerikan. Anak-anak itu akan mulai saling bertengkar, dan masalah mereka akan dengan cepat meningkat menjadi kekerasan paling brutal dan mematikan yang bisa kau bayangkan. Mereka akan saling menusuk dengan tonggak kayu, saling mengeluarkan isi perut dengan batu yang tajam, dan bahkan merobek daging dari tulang dengan tangan kosong mereka.

Kau akan menyaksikan mereka, yang awalnya adalah anak-anak bak malaikat, kini menjadi bak iblis kecil dengan raut wajah menyeramkan. Mereka kemudian menyebarkan kematian dan kerusakan yang lebih mengerikan dari yang bisa kau bayangkan.

Kemudian kau akan melihat anak laki-laki telanjang, berlumuran darah, bernyanyi dengan riang sambil berlari melintasi gurun yang panas. Anak laki-laki itu dikejar oleh monster-monster yang sangat buruk rupa. Mereka akan mengejarnya dan menghancurkannya tanpa sisa, Kau masih bisa mendengar lantunan lagu yang dinyanyikan anak laki-laki itu, bahkan tatkala tubuhnya sudah remuk dan mulutnya hancur entah kemana. Menyisakan onggokan daging yang bernyanyi sebelum akhirnya irama itu berhenti.

Penglihatan-penglihatan itu terus tergambar di matamu dan semakin lama kau menontonya, semakin keji pula hal yang terjadi. Namun, secara misterius, kau akan tetap tenang dan damai bahkan saat kau menonton kebrutalan yang tak terkatakan ini.

Saat penglihatan menyeramkan itu berakhir, rasa sakit yang hebat akan menusuk dadamu. Jantungmu akan terasa seperti ingin meledak. Jangan biarkan siksaan itu merusak fokusmu, dan jangan memalingkan pandangan dari mata si wanita tua. Jika kau berani memalingkan mata, maka jantung meledak pun lebih baik dibanding apa yang akan terjadi selanjutnya.

Semisal pandanganmu tetap kukuh, rasa sakitnya akan berangsur-angsur menghilang sebelum sepenuhnya berhenti. Kemudian wanita tua itu akan berdiri (dengan matamu yang masih fokus padanya, kau tak akan tahu mengapa) dan memberikan kotak musik miliknya kepadamu.

Kotak musik itu adalah objek ke-6 dari 538.
Saat lagu itu terputar kembali, mereka semua akan bersatu.
Yth Pembaca,
Mohon jangan copas sembarangan artikel di blog ini, buatnya susah gan. Mengutip boleh, namun mohon sertakan sumber backlink ke blog ini. Terima Kasih

0 Response to "Chapter 6 : The Holder Of Song"

Post a Comment