v Chapter 65 : Holder Of Agony | UNSOLVED INDONESIA

Chapter 65 : Holder Of Agony


From theholders.org

Translated by Admin

Di kota manapun, di negara manapun, pergilah ke institusi mental atau rumah penampungan yang bisa kau datangi. Saat kau mencapai meja depan, mintalah untuk mengunjungi seseorang yang memanggil dirinya “Sang Penjaga Siksaan” [The Holder Of Agony]

Resepsionis itu akan membulatkan mata terkejut, seolah dia tidak mengerti mengapa kau ingin menemui orang tersebut Mereka akan menggerutu sebentar, namun ekspresi wajah mereka akan segera berubah merenung dan cemberut. Kemudian gelagat mereka akan berubah menjadi menggigil ketakutan, berbalik, dan menolak.

Kau harus bertanya lagi, dan terus bertanya dengan suara yang tenang dan lembut, bahkan jika mereka mulai terisak atau berteriak. Jika permintaanmu pada akhirnya dituruti, kau akan dituntun ke sebuah ruangan tanpa nomor di salah satu lorong.

Si pegawai akan membuka pintunya untukmu. Begitu kau berjalan untuk memasuki ruangan gelap tersebut, mereka akan melancarkan tendangan keras ke punggungmu, menghempaskanmu kasar ke dalam ruangan. Kemudian pintu yang ada di belakangmu akan dibanting dan kau ditinggal pergi.

Di ruangan itu, kau akan mencium bau tisu sanitasi alkohol dan darah. Baunya akan bercampur aduk secara bersamaan dan tidak jarang membuat orang pusing.

Kau yang tidak bisa melihat apa-apa karena gelap pada akhirnya harus menunggu. Entah menunggu berapa lama, yang jelas jika penantianmu berakhir, ruangan tempatmu masuk tadi akan terbuka kembali. Seseorang berjubah akan ikut masuk ke ruangan bersamamu dan menutup kembali pintnya. Dan, karena ruangan kembali ditutup maka gelap akan kembali disekitarmu.

Gelap disekitarmu mungkin akan mulai membuatmu tidak nyaman, entah karena mungkin kau tau sekarang kau tidak sendirian di ruangan itu.

Meskipun begitu, orang berjubah itu tidak menimbulkan suara saat bergerak. Yang kau tau selanjutnya, hanyalah tatkala tangan busuknya sudah menyentuh kulitmu dan bola mata merahnya berada 10 centimeter di depanmu.

Ditengah cengkramannya yang kasar, dia akan bersuara “Aku mengenalmu”

Suaranya akan bergaung ke sekujur tubuhmu, dan kau akan mengalami segala jenis ketidaknyamanan – gelisah, takut, bahkan sulit bernafas. Kakimu juga akan terasa lemas dan kau kesulitan untuk menggerakan tubuhmu.

Tetaplah diam. Jangan membuat suara apapun. Jika kau sudah dapat mengontrol diri, bertanyalah: “Mengapa mereka kesakitan?”

Makhluk itu akan membalas dalam nada suara yang membuat perutmu mual, “Aku akan menahanmu di sini selamanya, dan setiap malam, aku akan memutilasimu, memperkosamu, dan membunuhmu.”

Tidak sempat berpikir. Sosok berjubah itu akan menusukmu bertubi-tubi menggunakan belati ditempatmu berdiri. Rasanya akan sangat sakit dan kau akan tau kalau tubuhmu mulai dibanjiri darah. Meskipun begitu, kesadaranmu tidak akan menghilang.

Tidak peduli dengan sakitmu, suara itu akan berlanjut. “Aku akan membunuh semua orang yang kau cintai, dan membuat mereka melihat wajahmu sebagai pembunuhnya. Aku akan menghancurkan semua hal yang menurutmu indah. Aku akan memelintir batinmu sampai kau sekejam dan sesesat kami.”

Makhluk itu tidak akan berhenti, bahkan saat rasa sakit yang berasal dari belati di usumu mulai merambat ke seluruh sarafmu. Rasa sakitnya akan menghentikan fungsi paru-parumu dan mungkin saja jantungmu, namun tetap saja, kau tidak dibiarkan mati.

Lebih banyak tusukan akan menembus badanmu. di tempat yang sulit dijangkau, di tempat yang mustahil. Sementara si sosok masih tetap saja meneriakkan sumpah serapah kepadamu.

Disela penderitaanmu, kematian mungkin akan terlihat menghampiri. Dan di satu titik mungkin kematian lebih menggoda dibanding terus menerima siksaan darinya. Namun cobalah menahan diri, paksakan dirimu untuk terus terjaga dan jangan sampai kehilangan kesadaran. Pasalnya, hal yang menunggumu setelah hilang kesadaran bukanlah kematian. Tapi hal yang lebih buruk.

Kau harus mendengarkan suaranya dengan baik, karena akhirnya, ia akan mengatakan satu dari dua hal.

Jika sosok itu mengatakan, “Kemuliaan ini diperuntukan pada mereka yang telah membuktikan diri mereka,” maka riwayatmu memang sudah  berakhir. Penderitaan abadimu akan jadi sangat sangat mengerikan sehingga setiap orang di Bumi yang pernah melihat wajahmu atau mendengar namamu akan bermimpi buruk tentang siksaanmu bahkan setelah mereka mencapai akhirat sekalipun.

Jika sosok itu berkata, “Seluruh hidup dan keberadaanmu tidak tersentuh siksaan ini,” kau harus menjawab, dengan cepat dan percaya diri, “Penderitaan ada di dalam diri kita semua sampai penderitaan tersebut berhenti menyakiti.”

Jawab dengan cepat. Karena setiap detik diammu, si sosok akan terus mencabik-cabik tubuhmu. Lebih buruk, jika kau tidak mampu menjawab. Maka siksaan yang barusaja kau terima hanyalah ibarat gelitikan bulu dibanding apa yang akan terjadi setelahnya.

Jika kau membalas dengan benar, segalanya akan berhenti – rasa sakitnya, teriakan gilanya – dan kau akan merasakan sosok yang menikammu tadi, berangsur-angsur menghilang. Hanya jubahnya saja yang tersisa.

Singkirkan jubahnya dan kau akan menemukan sebuah kantung kulit. Di dalam kantung kulit itu akan terdapat tumpukan debu yang aneh.

Debu itu adalah objek ke-65 dari 538.
Sebaiknya jangan kau buka kantungnya. Pasalnya, debu itu membawa sebuah wabah yang menular. Wabah yang tidak menyerang fisik, melainkan menyerang batin. Jika pandemi akibat debu ini terjadi di bumi, bahkan suasana neraka pun tidak bisa dibandingkan degan bumi setelahnya.
Tag : Cerita Horor, The Holder, Creepypasta
Yth Pembaca,
Mohon jangan copas sembarangan artikel di blog ini, buatnya susah gan. Mengutip boleh, namun mohon sertakan sumber backlink ke blog ini. Terima Kasih

0 Response to "Chapter 65 : Holder Of Agony"

Post a Comment