Cerita Horor Pengantar Tidur Eps 1 : “Lantai 4” | UNSOLVED INDONESIA
Beranda - Kasus - Geek - Riddle - Lost Notes - Horror Story - About Blog - Kontak Admin

Cerita Horor Pengantar Tidur Eps 1 : “Lantai 4”


Cerita Horor By Admin

Episode 1 : Lantai 4

Aku mendengar cerita ini dari temannya temanku. Hari itu kami sedang menginap di rumah temanku tatkala kami berkompetisi menceritakan cerita Horor menyeramkan yang pernah kita alami masing-masing.

Cerita ini datang dari seorang remaja bernama Jen. Suatu hari, dia sedang memilih-milih sebuah pakaian di departemen store bersama temannya Riki. Mereka tau mereka tidak bisa menemukan pakaian yang cocok dan memutuskan untuk pergi.

50 Menit berjalan-jalan mengitari departemen Store, mereka mendapati diri mereka lapar. Disela perjalanan, Riki bercerita kepada Jen tentang sebuah rumor yang didengarnya dari Internet.

“Kau tau.. Di internet bilang, kalau kau memencet nomor Lift paling Ujung dekat sebuah toko tutup di departemen Store ini dengan kombinasi angka 6 tiga kali, kau akan berakhir di lantai 4.” Jelas Riki.

Jen tentu saja awalnya tidak tertarik karena yang dia pikirkan sekarang adalah cari makan.

“Cerita apaan dah. Mana ada lantai 4. Gedung ini sejak dulu tidak pernah ada lantai empatnya.” Balas Jen.

Departemen Store ini memang aneh. Mereka menghilangkan lantai 4 dari daftar lantai dan langsung melompatinya ke lantai 5. Urutan lantainya jadi adalah 1, 2,3 dan kemudian 5. Alasannya? Mungkin karena pemilik departemen store ini orang jepang dan budaya jepang menganggap kalau angka 4 adalah angka sial.

Mereka berdua memesan burger, kentang goreng dan segelas cola dan duduk di meja restoran. Riki tidak menyerah pasalnya detik berikutnya dia lantas menunjukkan sebuah artikel dari smartphonenya. Dia menunjukkan langkah-langkah yang harus dilakukan agar bisa sampai ke lantai 4.

Jen membaca artikel itu dengan pandangan mengejek. Tangannya yang satu sudah sibuk dengan kentang goreng,

“Jadi. Kau pikir artikel ini asli?.” Bantah Jen.

Riki mengangkat bahu.

“Yah siapa tau kan? Kau mau mencobanya?” Ajak Riki.

Jen nampak tidak tertarik.

“Kau tau kalau Artikel seperti ini dibuat untuk membodohi orang sepertimu kan?”tanya Jen.

Riki tersenyum. Dengan nada bercanda, dia menjawab pernyataan Jen.

“Atau mungkin. Artikel ini ada untuk memperlihatkan kita sebuah kenyataan lain yang tersembunyi.” Balas Riki.

“Kau terdengar seperti penganut teori konspirasi.” Ujar Jen.

Riki tertawa.
.

.
Jam menunjukkan pukul 5 sore dan mereka berdua sebenarnya berniat untuk pulang. Namun diluar hujan dan mereka malas menunggu taksi. Itulah kenapa mereka masuk lagi ke departemen Store dan berniat ada disana setidaknya sampai hujan yang cukup deras mereda.

Menyadari mereka tidak ada kerjaan selain duduk di sebuah bangku, Jen pun akhirnya menyetujui saat Riki mengajaknya untuk ‘melihat lantai 4’

Dengan langkah gontai, mereka menuju sebuah lift yang dimaksudkan. Riki memegang smartphonenya sembari membaca langkah langkah yang harus mereka lakukan untuk dapat sampai ke lantai 4.

Pergilah ke lift paling ujung di departemen Store ini. Lift tersebut memiliki sticker Non Human only di pintunya, Lift itu berada di samping sebuah toko tutup berlabel ‘Coup De Blanc’

“Non Human Only katanya?” Ujar Jen. Dia mentertawakan Riki yang membacakan langkah nomor satu.

“Terdengar bodoh memang.” Jawab Riki. Yah, dia mengakuinya. Meskipun begitu, mereka berdua tetap melangkahkan kaki mereka ke lift yang bersangkutan.

Jika kau sudah menemukannya. Tunggulah selama beberapa detik dan pastikan tidak ada orang yang masuk selain dirimu. Jika kau membawa teman, gandeng tangannya dan pastikan kalian tidak terpisah.

Riki mengulurkan tangannya ke Jen. Jen yang kala itu disodori tangan, hanya menatap tangan Riki dengan pandangan aneh.

“Kau yakin ini bukan akal-akalanmu hanya untuk menggandeng tanganku?” Ujar Jen mulai curiga. Riki memutar bola matanya.

“Astaga. Langkahnya memang seperti itu.” Balas Riki. Dia memperlihatkan langkah nomor 2 tepat ke muka Jen.

Masuklah ke dalam dan persiapkan diri. Pencet angka 6 tiga kali dengan jeda kurang lebih setengah detik. Di pencetan terakhir, tahan tombol sampai pintu sepenuhnya tetutup.

“Tekan tombolnya Jen.” Perintah Riki.

Jen yang mengetahui tangan Riki sedang sibuk tentu saja tidak punya pilihan. Tangan kanan Riki menggenggam tangan kiri Jen, dan tangan Kiri Riki sibuk dengan smartphonenya.

“Hahh.. Bodoh sekali.” Gumam Jen pelan. Dia menekan tombol itu sesuai Instruksi. Saat pintu lift sudah tertutup, dia pun mundur.

Perjalanan akan sedikit aneh. Kau akan melihat lampu tombol lantai nomor 6 berkedip, dan kau akan merasakan lift itu naik. Namun layar yang memperlihatkan lantai akan tetap memperlihatkan angka 1.

Jen dan Riki menatap bergantian antara tombol dan layar yang memperlihatkan lantai.

“Wah benar.” Ujar Riki mengkonfirmasi.

Sedangkan Jen sendiri. Dia awalnya sedikit terkejut. Namun tentu saja dia lebih memilih menyimpulkan secara masuk akal. Jen dan Riki bisa mengetahui tatkala lift itu berhenti. Sayangnya, pintu yang ada di depannya tidak terbuka.

Jen tentu saja langsung heran.

“Ini kenapa Rik?” tanya Jen.

Riki yang masih memegang smartphonenya langsung mulai membaca langkah ke 5.

“ Langkah 5. Lift akan berhenti dan akan memiliki jeda 1 menit sebelum pintu terbuka. Ini kesempatanmu untuk pergi. Jika kau memilih untuk tidak jadi ke lantai empat. Pencet kembali angka 1 dan kau akan kembali ke lantai 1.” Ujar Riki melanjutkan membaca langkah  selanjutnya.

Jen tidak menjawab. Dia menatap Riki bosan. Tentu saja dia tidak akan mau kembali sementara pembuktian omong kosong ini sekarang berada di depan matanya.

“Lanjutkan saja bacanya. Aku ingin mendengar omong kosong itu sampai akhir.” Jelas Jen.

Riki kembali ke smartphonenya.

“Langkah 6. Saat pintu terbuka. Aku sarankan kau jangan berteriak atau panik....” Ujar Riki. Dia menggantungkan kalimatnya seiring lift yang terbuka.

Jen yang awalnya merasa bosan dan tidak tertarik seketika langsung merasa mual saat dia melihat lantai yang ada di luar lift.

Riki belum menyadarinya, dia masih menatap smartphonenya. Namun kalimat yang dia baca selanjutnya menjelaskan semuanya.

“Jika kau mencium bau anyir, abaikan saja....”
.
.
.
.
.
“.... Mungkin sedang ada obral besar-besaran organ dalam manusia.”


Yth Pembaca,
Mohon untuk tidak meng-copas artikel di blog ini sembarangan. Buatnya susah gan. Kalau mengutip boleh, tapi mohon sertakan sumber. Terima kasih.

0 Response to "Cerita Horor Pengantar Tidur Eps 1 : “Lantai 4”"

Post a Comment