Fermi Paradox, Ada Miliaran Planet Kok Kita Cuman Sendiri? | UNSOLVED INDONESIA
Beranda - Kasus - Geek - Riddle - Lost Notes - Horror Story - About Blog - Kontak Admin

Fermi Paradox, Ada Miliaran Planet Kok Kita Cuman Sendiri?


Pernahkan kamu disuatu saat tatkala menatap langit muncul sebuah pertanyaan : Triliun planet miliaran galaksi, kok kita cuman sendiri? Dimana para alien? Apa benar cuman kita spesimen cerdas yang mampu membangun peradaban semaju ini?

Tentu saja hal itu adalah sebuah pertanyaan umum yang sampai sekarang masih di cari bukti oleh para ilmuan. Namun mengkesampingkan bukti, sudah beratus-ratus tahun otak manusia mencoba merasionalkan rahasia tuhan tersebut dengan banyak teori.

Salah satunya adalah Fermi Paradox. Sebuah teori penjelasan alam semesta yang bisa dibilang ‘paling masuk akal’ setidaknya bagi pemahaman otak kita yang tebatas.


Potensi kehidupan Luar angkasa.

Alasan kita tidak pernah tau kehidupan luar angkasa mungkin karena adanya klasifikasi para ilmuan tentang ‘Local grup’

Jadi analoginya adalah, ibaratkan galaksi bimasakti adalah apartemen, sedangkan tata surya kita (matahari beserta planet yang mengitarinya) adalah kamar-kamar pada apartemen tersebut. Nah, local grup yang dimaksud adalah blok berisi jajaran apartemen yang berdiri bersebelahan. Diluar blok tersebut, masih ada jajaran apartemen namun apartemen itu tidak satu daerah dengan kita.

Dengan kata lain, pada dasarnya Local Grup milik kita sepenuhnya hanya berkisar pada galaksi Bimasakti dan galaksi sekitarnya saja, sedangkan Local Grup yang lain berpotensi ada kehidupan, namun tempat tersebut akan ada diluar jangkauan kita selamanya (karena jaraknya sangat jauh dan harus melewati kehampaan luar angkasa yang sangat luas)

Potensi kehidupan di galaksi BimaSakti.

Namun mengkesampingkan Local grup, galaksi Bimasakti saja sebenarnya jumlah planetnya lebih dari 400 miliar. Logikanya dong, seharusnya paling tidak satu planet selain bumi pasti ada penghuninya.

Tata surya bertitik pada obyek sejenis matahari di galaksi Bimasakti diperkirakan setidaknya sekitar 20 miliar banyaknya. Lima diantaranya bahkan sudah diamati dan disimpulkan memiliki planet yang ukurannya sama seperti bumi dan kemungkinan besar ekosistemnya dapat dihuni makhluk biologis.

Lah! Kan harusnya ada penghuninya tu! Udah jelas kan? Karena apabila di hitung berdasar matematika, semiisal hanya 0,1 % dari seluruh planet tersebut yang dapat dihuni, setidaknya harusnya ada 1 Juta planet yang dapat menyokong kehidupan. Jika semisal ada dan peradaban di planet-panet tersebut memiiliki tekhnologi maju, lalu kenapa kita tidak pernah bisa menemukannya?

Mengukur kemajuan peradaban berdasarkan Skala Kardashev

Skala kardashev adalah skala yang sering digunakan oleh para ilmuwan untuk mengukur kemajuan suatu peradaban. Secara mudah, skala tersebut dijelaskan seperti ini. Ada tiga kategori peradaban yang dipisahkan untuk mengukur kemajuan.



Kategori 1 : “Peradaban tersebut dapat atau memiliki kemampuan mengakses setiap energi yang tersedia dalam planet tempatnya tinggal.” Dengan kata lain, peradaban tersebut dapat membuat pembangkit energi dari seluruh sumber daya yang ada di planetnya.



Kategori 2 : “Peradaban tersebut dapat atau memiliki kemampuan mengakses setiap energi yang tersedia dalam pusat tata suryanya (matahari)” Atau peradaban tersebut sudah berhasil menemukan cara untuk menyerap energi dari Matahari. Fyi, yang dimaksud bukan tekhnologi sejenis PLTS (Pembangkit listrik tenaga surya). Melainkan lebih dari itu yaitu kolonialisasi Matahari dan tekhnologi sebesar Generator tata surya berbahan bakar Matahari.



Kategori 3 : “Peradaban tersebut dapat atau memiliki kemampuan untuk mengontrol setiap planet yang ada di dalam galaksi tempat dia tinggal.” Yang dimaksud adalah perjalanan intergalaktik, koloni antar planet dan memiliki sistem pemerintahan berbendera galaksi. Dengan kata lain, peradaban tersebut adalah penguasa dari satu galaksi.

Para ilmuan sepakat bahwa bumi di masa kini, dalam skala tersebut memiliki nilai 0.73, yaitu mendekati Kategori 1

Nah, berdasarkan kepada skala tersebut, misal ada diluar sana (di dalam galaksi Bimasakti) sebuah pradaban sebut saja kategori 3, bukankah harusnya kita sudah melihat peradaban maju tersebut? Well, setidaknya mampir ke bumi kek.

Fermi Paradox dan alasan kita tidak bisa menemukan Alien.

Fermi paradox adalah pemahaman eksistensi berdasarkan sebuah filter atau tembok. Tembok yang dimaksud adalah sebuah kejadian yang terjadi kepada suatu spesies yang membuat spesies itu dikategorikan sebagai spesies paling maju. Dengan kata lain, untuk mencapai peradaban maju, kita sebagai spesies harus melewati tembok tersebut.

Pemahaman itu dibagi menjadi dua :

Tembok itu ada, dan kita sudah melewatinya. Yang dimaksud adalah bahwa tembok yang disebutkan adalah proses penciptaan (pembentukan biologis dari skala atom ke skala manusia). Dan karena kita sudah melewatinya, maka kita sudah ada di seberang tembok tersebut. Proses ini sangat kompleks dan susah sehingga jika kita mengikuti pemahaman yang ini, maka kita percaya bahwa kita adalah makhluk paling cerdas di alam semesta karena di planet lain kemungkinan kehidupan disana belum mampu melewati tembok penciptaan (Seleksi dan faktor kegagalan)


Namun ada juga pemahaman yang kedua.

Tembok itu ada, dan kita belum melewatinya. Yang dimaksud adalah, tembok proses kehancuran. Tembok tersebut akan ada setelah kita mencapai sebuah tekhnologi super canggih yang dipercayai akan menyelesaikan masalah umat manusia. Namun tekhnologi itu akan menimbulkan krisis dan pada akhirnya menghancurkan seluruh peradaban. Tembok ini juga sering disebut sebagai kiamat. Apabila kita berhasil melewati tembok ini, maka kita akan dikategorikan sebagai spesies yang dapat melewati filter/saringan eksistensi (Peradaban Kategori 3)


Dari keduanya, ilmuan memiliki persamaan yang menyebutkan bahwa “Peradaban manapun yang berhasil melampaui tembok tersebut, maka dia dapat dikategorikan sebagai peradaban paling maju.”

Sayang terlepas dari hal tersebut, kita tidak akan pernah tau dimana posisi kita diantara tembok atau filter tersebut. Itulah kenapa hal ini disebut sebagai paradox (perhitungan yang tidak bisa dipecahkan)

Ibaratkan sebuah tembok yang berdiri. Kita adalah seorang anak yang ada di salah satu sisi tembok tersebut. Disana kita menghabiskan waktu untuk menentukan mana sisi depan dan sisi belakang tembok. Kita tidak akan pernah tau dimana sisi depan dan dimana sisi belakang karena memang tidak ada yang pernah memberitahu kita. Dengan kata lain, kita selamanya tidak akan pernah tau posisi kita dimana.


Teori-Teori eksistensi Alien

Mengkesampingkan Fermi Paradox sebenarnya ada beberapa teori yang dipercayai dapat menjelaskan keberadaan alien dan kenapa kita tidak dapat menemukan dan berkomunikasi dengan mereka. Teori-teori tersebut adalah


Teori 1Peradaban itu ada, namun jaraknya sangat jauh dari bumi. Ada juga yang menyebutkan bahwa kita salah persepsi saat kita mengatakan kalau kita adalah pusat dari alam semesta, padahal bisa jadi planet bumi hanyalah planet random yang ada di pinggiran/ujung galaksi.

Teori 2Perbedaan linguistik membuat kita tidak bisa memahami sinyal yang dikrimkan oleh makhluk luar angkasa. Contohnya kita tidak bisa mendengar suara ikan/semut. Namun mereka secara non Verbal berkomunikasi satu sama lain. Bisa jadi saat ini ada peradaban maju diluar sana yang sedang melakukan komunikasi dengan bumi namun gelombang suaranya terlalu rendah/terlalu tinggi sehingga tidak dapat menjangkau peralatan komunikasi kita.

Teori 3Kehidupan luar angkasa masih berupa amoeba atau spesimen tak bertulang. Jika kalian pernah nonton film Life yang dibintangi oleh Jake Gylenhaal dan Ryan Reynolds, kalian akan tau maksudnya. 

Diatas semua itu, masih banyak teori-teori yang seakan mencoba menjelaskan semuanya. Namun tentu saja, karena itu hanyalah sebuah teori, belum ada bukti konkrit yang dapat membuktikannnya.

Itulah kenapa sampai hari ini pertanyaan tersebut akan terus menghantui umat manusia.

“Dimana yang lain?”

Baca Juga  :
Yth Pembaca,
Mohon untuk tidak meng-copas artikel di blog ini sembarangan. Buatnya susah gan. Kalau mengutip boleh, tapi mohon sertakan sumber. Terima kasih.

0 Response to "Fermi Paradox, Ada Miliaran Planet Kok Kita Cuman Sendiri?"

Post a Comment