v Christmas Truce of WWI : Ketika Tentara Jerman dan Inggris Berdamai Di Medan Perang Hanya Untuk Bermain Sepak Bola. | UNSOLVED INDONESIA

Christmas Truce of WWI : Ketika Tentara Jerman dan Inggris Berdamai Di Medan Perang Hanya Untuk Bermain Sepak Bola.

Perang itu mematikan, membawa kehancuran dan keputusasaan. Perang melukai penduduk, membantai tentara dan menghancurkan pemerintahan.

Catatan sejarah telah melaporkan bahwa ”Dari 3.400 tahun terakhir, manusia hanya sepenuhnya berdamai selama kurang lebih 270 tahun saja, atau hanya sekitar 8 persen dari keseluruhan sejarah.”

Menurut perkiraan, sepanjang perjalanan sejarah manusia, perang telah memakan korban sekitar 1 miliar orang. Padahal, dalam satu abad terakhir sendiri, minimal 108 juta orang tercatat kehilangan nyawa akibat perang.

Ketika kita memvisualisasikan tentang perang, imajinasi tentang peluru, darah, dan kebencian adalah hal pertama yang masuk ke dalam pikiran kita.

Tapi sejenak, bayangkanlah apabila kedua belah kubu, tiba-tiba melakukan genjatan senjata untuk bermain sepak bola dan merayakan Natal bersama di tengah medan pertempuran—segala macam dendam dan benci, dilupakan sejenak hanya untuk bermain bola.

Meskipun terdengar konyol, namun hal itu pernah terjadi di Perang Dunia pertama. Sebuah kejadian yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai “The Christmas Truce of World War I.“

Christmas Truce of World War I

Selama musim dingin tahun 1914, perang masih berada dalam tahap awal. Di medan pertempuran, parit menjadi satu-satunya benteng para prajurit untuk bertahan hidup—parit melindungi para prajurit dari artileri dan tembakan musuh.

Pada bulan November 1914, jaringan parit yang sangat panjang diketahui telah dibuat diantara kedua belah pihak yang bermusuhan. Keduanya, melakukan upaya defensif agar parit-parit mereka, tidak menjadi sasaran empuk satu sama lain.

Ditengah-tengah kedua parit tersebut, adalah tanah gersang bekas pertempuran yang hanya diisi peluru, lubang dampak artileri dan mayat-mayat orang mati. Daerah mematikan yang kemudian dikenal sebagai “No Man’s Land” (atau Tanah Tak Bertuan)

Pada tahun itu, bulan-bulan berganti dan semakin mendekati Natal. Perang telah berkembang dengan cara yang membosankan dan umumnya diyakini bahwa perang akan berakhir saat Natal dan para prajurit dapat segera pulang

Namun, ternyata kenyataannya sangat berbeda. Saat itu malam Natal dan para prajurit masih terjebak di parit berlumpur, tidak ada berita tentang “pemulangan” yang mereka tunggu-tunggu.

Malam menjelang dan salju mulai turun. Dari kedua belah pihak, tidak ada yang berniat untuk melepaskan tembakan apapun. Mereka, hanya ingin melihat salju (dan merupakan momen natal) di parit yang bau dan kotor.

Pada Pukul 20:30, Markas besar Inggris menerima pesan yang membingungkan dan aneh dari pasukan di parit. Pesan itu berbunyi :, “Jerman telah menerangi parit mereka, menyanyikan lagu-lagu dan mengucapkan Selamat Natal kepada kami. Kedua belah kubu saling bertukar salam, tetapi Aku (sang komandan) akan tetap mengambil semua tindakan pencegahan militer.”

Karena beberapa bagian parit ada yang berdekatan, satu sisi dapat dengan mudah mendengar yang lain. Sepanjang malam, kedua belah pihak yang bermusuhan, diketahui terus saling menghibur dengan lagu-lagu Natal.

Lagu Jerman “Silent Night” bersautan dengan Lagu Inggris “The First Noel.” Tidak ada satu tembakan pun yang dilepaskan malam itu.

Damai Ditengah Perang

Saat fajar menyingsing dan Natal pun tiba, Kedua belah pihak masih bertukar salam dengan meneriakkan selamat natal dari parit masing-masing. Namun, kala itu, kedua belah pihak masih skeptis satu sama lain. Mengharapkan pengkhianatan, orang-orang di kedua sisi tetap menempelkan tangan mereka pada senjata..

Itu sebelum kemudian, Officer dari kedua sisi tiba-tiba muncul dan melintasi tembok pembatas kawat berduri yang telah memisahkan mereka dan bertemu di tanah tak bertuan. Tidak yakin apa yang harus dilakukan, mereka mulai berjabat tangan dan saling mengucapkan selamat Natal.

Tak lama kemudian, beberapa tentara dari kedua belah pihak ikut ambil bagian dan dengan meninggalkan senjata, berhamburan ke daerah No Man’s Land. Mereka kemudian saling berjabat tangan dan mengucapkan Selamat Natal.

Mereka bertukar hadiah kecil seperti kancing seragam, topi, dan makanan. Pria dari kedua belah pihak membawa gelas dan mulai minum rum dan merokok tembakau, merayakan Natal.

Tidak hanya itu, mereka membuat kesepakatan untuk saling menguburkan orang mati mereka yang Jenazahnya, masih berserakan di No Man’s Land. Seseorang dari pihak Inggris telah menerima bola sebagai hadiah Natal, berinisiatif untuk membuat tim dan mengajak tentara Jerman bermain bola.

Seorang tentara Inggris bernama Felstead, mengatakan dalam sebuah wawancara pasca perang berakhir dan menggambarkan kejadian itu : “Mungkin ada sekitar 50 orang dari setiap sisi yang bertemu. Aku ikut bermain bola karena aku sangat menyukai sepak bola. Aku tidak tahu berapa lama itu berlangsung, mungkin setengah jam.”

Meski demikian, Jerman dilaporkan berhasil mengalahkan Inggris dengan skor 3-2 pada pertandingan yang berlangsung hari itu. Terlepas dari orang-orang itu kelelahan karena kondisi yang lembap di parit, tetap saja, mereka bermain sepenuh hati.

Mungkin mereka tahu kala itu, bahwa kebanyakan dari mereka tidak akan hidup untuk mengingat momen indah ini di kemudian hari. Untuk sejenak, Orang-orang itu tampaknya telah menemukan momen kedamaian dan ketenangan di tengah-tengah perang yang mungkin akan membuat mereka terbunuh di lain waktu.

Berakhirnya Genjatan Senjata

Sayang bahwa kedamaian tidak bisa bertahan selamanya. Kenyataan perang yang keras membuat mereka harus kembali ke parit mereka dan melawan orang-orang yang menjadi teman mereka beberapa saat yang lalu.

Selama beberapa waktu, pesan gencatan senjata sudah menyebar luas. Hal tersebut, membuat banyak tentara merasa enggan untuk bertempur lagi. Akibatnya, para petinggi dari kedua belah pihak, harus mengambil tindakan tegas untuk memastikan tidak ada lagi gencatan senjata.

Perang itu kemudian berlangsung selama 3 tahun lagi hanya untuk merenggut nyawa sekitar 38 juta orang, termasuk tentara.

Terlepas dari kenyataan bahwa Christmas Truce of World War I adalah acara yang diinisiasi masa, sebenarnya tidak semua pihak menyetujui. Gencatan senjata di hari itu, adalah sesuatu yang terjadi di beberapa titik yang tersebar di garis depan (tidak semua batalyon ikut)

Itu bukan hanya satu acara, melainkan serangkaian acara berbeda. Hal itu, mengakibatkan beberapa korban dilaporkan pada hari itu—Masih ada tentara yang mati tertebak oleh musuh mereka, karena beberapa orang tidak mengantisipasi gencatan senjata.

Verivikasi kejadian ini pun, hanya dari wawancara dan rangkaian surat dari kedua belah pihak (ada juga foto-fotonya sih, meski tidak manyak). Meskipun begitu, kisah buram ini, terus mengingatkan dunia akan pertemuan damai antara tentara Jerman dan Inggris selama masa-masa gelap Perang Dunia I.

Baca Juga :

Yth Pembaca,
Mohon jangan copas sembarangan artikel di blog ini, buatnya susah gan. Mengutip boleh, namun mohon sertakan sumber backlink ke blog ini. Terima Kasih

2 Responses to "Christmas Truce of WWI : Ketika Tentara Jerman dan Inggris Berdamai Di Medan Perang Hanya Untuk Bermain Sepak Bola."

  1. Pasti sakit baru beberapa saat jadi teman harus berperang lagi dan ngebunuh mereka.

    ReplyDelete
  2. sejatinya perang itu masalah para petinggi...sementara yang lain cuma pion.

    ReplyDelete