v The Legend of The Black King's Sword | UNSOLVED INDONESIA

The Legend of The Black King's Sword

Dahulu kala, disebuah kota yang tengah berperang.

Apa yang dulunya merupakan permata yang cemerlang dan berkilauan di malam hari, telah menjadi medan perang yang mengerikan. Bangunan-bangunan seputih mutiara terbentang bermil-mil, dikelilingi oleh tembok putih besar yang telah runtuh.

Di tepi kota yang dulunya megah, bangunan kecil dari jerami dan kayu dibakar, apinya membara secara perkasa malam itu. Mendekati bagian tengah, bangunan indah yang menyerupai rumah dan pasar terbengkalai, kini menjadi puing-puing yang tidak dapat lagi membuktikan kejayaan mereka.

Terakhir, di lingkar dalam kota, gedung-gedung tinggi menyerupai biara dan sekolah, perpustakaan dan gedung parlemen, masih berdiri megah dan kokoh. Deretan ketapel dan instalasi militer bertengger di gedung-gedung ini, sebagai pertahanan yang tujuan utamanya adalah untuk menekan “wabah hitam” yang bergerak maju mendekati struktur di pusat kota ini.

Struktur yang dimaksud adalah mutiara kota, menara putih gading yang menjulang tinggi di malam hari, menembus tabir kegelapan yang menyelimuti kota besar itu sepenuhnya. Menara lonceng raksasa yang bertengger di puncaknya berbunyi nyaring dan mantap, bergema melalui jalan-jalan berlubang di malam yang dingin, seakan meminta bantuan yang tidak akan pernah tiba.

Warga kota ini kalang kabut di jalanan, melarikan diri dari tentara berpakaian hitam. Deretan prajurit berzirah hitam yang kejam, terlihat tanpa henti melukai dan menghancurkan semua yang menghalangi jalan mereka. Kemarahan mereka, bagaimanapun, didorong oleh kebencian mereka terhadap penduduk Kota Putih. Jalan-jalan memerah dengan darah warga tak berdosa, diperkuat oleh kobaran api yang menari dimana-mana.

Seorang pria “Tanpa Nama”, nampak berlari mendekati menara di struktur pusat kota. Sekali lagi, bangunan itu adalah mutiara kota. Pusat pemerintahan serta istana bagi orang nomor satu di Kota Putih.

Sayang, sekarang tempat itu hanyalah keajaiban kota yang jatuh, karena beberapa pasukan berzirah hitam terlihat sudah mulai mendekat dari berbagai arah. Para “biksu” yang mengenakan baju zirah putih, berdiri berjaga di sekitar pintu masuk istana, mencoba mencegat serangan yang datang.

Mendarat dengan ringan di benteng istana, sang pria tanpa nama nampak didekati oleh para biksu berzirah putih dengan sangat cepat. Mereka segera memeluk sang pria, dan tak lama kemudian pria itu mendapati dirinya diberikan baju zirah putih. Dia adalah sekutu para biksu, dan dalam kondisi krisis, para biksu ini ayalnya akan menerima semua bantuan yang bisa mereka dapatkan.

Dilihat dari pakaian, serta posisi mereka bertahan, para biksu yang menyambut sang pria tanpa nama ini tampaknya adalah tentara elit kota. Hal ini dikuatkan dengan baju zirah putih bersinar yang mereka kenakan, terlihat dihiasi dengan lambang rahasia, melebihi segala aspek baju zirah kurus yang dikenakan pasukan lain.

Bunyi pedang beradu semakin keras dan mereka tau bahwa peperangan akan semakin mendekat ke tempat itu. Saat pertempuran di luar terlihat mendekati tangga istana, para biksu zirah putih elit mulai menghunuskan senjata mereka. Pria tanpa nama itu tahu bahwa pertempuran ini mungkin yang terakhir, namun, dia akan ikut membela Kota Putih sampai akhir hayatnya.

Ketika barikade terakhir istana jatuh dan dikalahkan pasukan hitam, gerombolan bantuan mereka langsung menyerbu dari belakang.

Para penjaga elit mulai menyerang, melemparkan diri ke arah musuh, berlari melewati mereka tanpa henti. Pedang gading mereka berubah menjadi merah karena darah musuh. Mereka jelas masih mampu mengalahkan gelombang tentara hitam yang datang, yang mencoba maju ke arah Menara di tengah area.

Tetapi gelombang tentara musuh tidak berhenti, dan segera para biksu kulit putih mulai lelah, perlahan jatuh ke pedang hitam musuh yang jahat. Teman demi teman mulai jatuh ke dalam kematian yang dibawa oleh musuh. Akhirnya, semua penjaga kulit putih telah disingkirkan, dan pria tanpa nama, terlepas dari usahanya untuk ikut membantu, harus dipukul mundur oleh kekuatan lawan. Dia lelah, terluka, dan tahu bahwa dia akan segera menyusul kawan-kawannya.

Dalam upaya terakhir untuk mencapai keselamatan, dia melarikan diri ke pintu masuk menara.

Menembus gerbang, lelaki yang berkeringat dan lelah itu melihat satu-satunya sosok berdiri di tengah Aula Besar. Biksu serba putih yang menunggunya, tampaknya adalah tentara sekutu paling elit. Dia memakai pelindung dada berwarna putih keemasan, serta pelindung kaki, sepatu bot, sarung tangan, dan helm emas yang megah.

Pria tanpa nama itu tahu saat dia mendekati sang biksu; bahwa dia baik hati, namun terbebani. Biksu itu adalah seseorang yang telah mengenal pertempuran hampir sepanjang hidupnya. Yang paling menarik dari biksu itu, adalah sarung pedang indah yang bertumpu pada pinggul kirinya.

Ketika mereka bertemu, sang ‘biksu kepala’ memberi anggukan kepada pria tanpa nama, mengisyaratkan dia untuk berlindung di belakangnya. Pasukan hitam akhirnya mulai mengerumuni aula besar, mendambakan pembunuhan terakhir. Saat pria tanpa nama menatap putus asa pada gelombang musuh yang datang. Dia tahu bahwa kesatria yang kesepian di depannya ini tidak akan memiliki kesempatan.

Dia salah. Salah besar .

Saat bilah pedang hitam pertama mengayun ke arah sang biksu, dia bereaksi. Dengan refleks yang tidak manusiawi, biksu putih itu menghunus pedangnya dan memenggal prajurit di depannya dan sepuluh pasukan di belakangnya sebelum pedang lain bisa menyentuhnya.

Prajurit hitam yang tersisa mengikutinya, jatuh ke tebasan pedang gading yang cepat sebelum mereka bisa berkedip karena terkejut.

Saat mayat prajurit terakhir menumpuk di atas rekan-rekannya, pria tanpa nama tahu bahwa “Sang Raja Putih yang Perkasa”, memang sekuat julukannya. Sosok yang belum pernah dikalahkan oleh musuh manapun ini, adalah orang yang memiliki kekuatan untuk menyelamatkan kita semua.

Sayangnya, kejayaannya tidak bertahan lama, karena genderang perang yang menakutkan mulai terdengar. Bersamaan dengan itu, Sosok hitam yang nampak mengintimidas terlihat memasuki tempat ini dari pintu masuk. Noda merah ada di sosok itu dari ujung helm sampai zirah dikakinya, seakan, sosok itu sengaja mengguyur seluruh tubuhnya dengan darah sebelum naik kesini.

Sosok itu melangkahi mayat tanpa mempedulikan apakah itu kawan atau lawan. Disini, Raja Putih dan Sosok Hitam bertatapan satu sama lain. Kebencian tampaknya meluap di batas pikiran mereka, bahkan mempengaruhi sang pria tanpa nama yang hanya bisa menonton.

Pendatang baru berzirah hitam ini tampaknya setara dengan Raja Putih dalam setiap aspek, kecuali rasa kejahatan murni yang mengalir dari baju zirahnya yang gelap. Apabila intuisi sang pria tanpa nama benar, sosok ini adalah pemimpin pasukan musuh, “Sang Raja Hitam yang Kejam,”

Mereka berdua kemudian saling mengacungkan pedang, memancarkan keinginan untuk saling membunuh. Saat itulah, kemudian sang pria tanpa nama menyadari: ini adalah pertarungan Raja Putih dan Raja Hitam.

Pertempuran mereka berlangsung sepanjang malam, menggelegar ke seluruh penjuru kota. Percikan api membumbung ke puncak Aula Besar, api dimulai dengan setiap benturan pedang. Mencocokkan setiap gerakan satu sama lain, sepertinya pertempuran itu akan berlangsung selamanya. Tetapi dengan kekuatan yang luar biasa, Raja Hitam melucuti senjata Raja Putih pada akhirnya. Pedang putihnya yang bersinar, terpental lepas dari tangannya dan terjepit di dinding.

Raja Putih berlutut dan Raja Hitam pun memberikan pukulan terakhir, membenamkan pedangnya ke dada lawannya, mengirimkan gelombang kejut besar ke segala arah.

Pemimpin Kota Putih itu terlempar ke dinding, karena menerima kerusakan dengan seluruh baju zirahnya. Bersamaan dengan itu, pedang hitam tertancap di tubuhnya, menghapus harapan terakhir untuk sang Raja Putih bangkit kembali.

Mereka telah kalah.

Saat Raja Hitam melihat keluar dari Aula Besar, dia melepaskan tawa jahat yang akan menghancurkan hati nurani pria normal mana pun. Terlalu lemah untuk berdiri, pria tanpa nama menyaksikan Raja Hitam mencuri tahta Raja Putih, memadamkan harapan dari penduduk kota untuk selama-lamanya.

Darah menghiasi lantai marmer putih murni. Kegelapan sempurna kemudian menguasai kota, dan hanya menyisakan keputusasaan di hati orang-orang baik yang tersisa.

Saat itulah sang pria tanpa nama mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya yang memudar dan berlari ke mayat Raja Putih. Mencabut Pedang Hitam dari dada Raja Putih, dia memfokuskan pandangannya pada Raja Hitam.

Melihat pedangnya diangkat, Raja Hitam pun kaget.

.

.

~lanjutan dari cerita ini tidak diketahui~

.

.

~~

.

Pedang Raja Hitam pernah menjadi Object nomor ?, tapi sejak itu hilang, benda itu terlupakan selamanya dalam mitos. Diusir karena kekuatannya yang jahat, konon katanya ia hanya akan menjawab panggilan dari sosok yang disebut the Dark One.

Baik Holder maupun Obyek, selalu berdoa agar pedang jahanam itu tidak pernah ditemukan lagi.

Baca Cerita dari The Holders Lainnya

Catatan admin ; Soo cerita ini secara tidak langsung paralel dengan cerita The Holder Of Peace. Meskipun jika dilihat kembali,  ada semacam perbedaan.

Cerita diatas, menurut sudut pandang universe The Holders, adalah peristiwa "Historis", sementara cerita The Holder Of Peace, adalah Cerita "Altered" yang dapat (dan sepertinya) dimanipulasi oleh sang Holder (karena kekuatan dari domain mereka). Ini untuk meluruskan semisal ada yang bertanya kenapa ada "sedikit perbedaan" atas cerita diatas dan cerita The Holder Of Peace. 

Yth Pembaca,
Mohon jangan copas sembarangan artikel di blog ini, buatnya susah gan. Mengutip boleh, namun mohon sertakan sumber backlink ke blog ini. Terima Kasih

4 Responses to "The Legend of The Black King's Sword"

  1. Akhirnya dibahas juga pedang raja hitam

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya,, tapi ceritanya belum selesai, nanti pedang ini bakal kembali disinggung di items of power, dan kayaknya bakal ada di cerita The Balance Saga (atau ieunitas, infectus, talius, admin lupa yang mana)

      Delete
    2. apakah "dark one" juga ada kisahnya min?

      Delete
    3. Hm.. Kalau yg itu admin belum tau

      Delete