v Colony Of Roanoke, Koloni Inggris yang Hilang Begitu saja dari pemukiman mereka pada tahun 1590 | UNSOLVED INDONESIA

Colony Of Roanoke, Koloni Inggris yang Hilang Begitu saja dari pemukiman mereka pada tahun 1590

The Lost Colony of Roanoke di Amerika tetap menjadi salah satu misteri yang menarik di benua itu. Selama bertahun-tahun, para peneliti telah menyarankan berbagai teori untuk menjelaskan hilangnya pemukim Inggris yang telah menetap di Pulau Roanoke. Namun, teori-teori ini hanya menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, dan tidak ada cara untuk benar-benar mengetahui apa yang mungkin terjadi pada orang-orang itu.

Koloni Roanoke pertama di Amerika

Pada tahun 1584, kala Ratu Elizabeth I memerintah Inggris, para pelaut Inggris diketahui berlayar melintasi lautan untuk mencari petualangan dan keberuntungan. Pada saat itu, gagasan menjelajahi dan menetap di Dunia Baru (benua Amerika) memang sangat populer.

Berlayar dan membangun koloni di Amerika, bukan hanya sekedar mencari tempat baru semata. Pasalnya, Ratu Elizabeth I menunjukkan persetujuannya dengan memberikan hadiah yang setimpal bagi mereka yang bersedia melakukan perjalanan tersebut.

Dalam upaya untuk memuaskan hasrat ratu Inggris, seorang bangsawan bernama Sir Water Raleigh diketahui menugaskan seorang bernama Sir Richard Grenville untuk melakukan ekspedisi ke Amerika. Sir Walter Raeligh, sebelumnya sudah pernah menerima piagam oleh Ratu Inggris karena berhasil membangun koloni dan menempatkan orang Inggris di Teluk Chesapeake, Virginia.

Perjalanan yang dipimpin oleh Sir Richard Grenville, akan menjadi perjalanan untuk membangun koloni Roanoke yang pertama.

Tentu tugas yang diterima oleh Sir Richard dari Sir Walter tersebut, tidak mungkin dia tolak. Pasalnya, dimata kerajaan inggris, membangun koloni di benua baru adalah tujuan mulia dan merupakan kehormatan bagi bangsawan.

Sayang apa yang dibayangkan oleh Sir Richard dalam perjalanannya, tidak sepenuhnya sesuai harapan. Memang sih kala mereka tiba di pulau Roanoke (yang berada di lepas pantai dari Carolina Utara saat ini), mereka disambut dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Beberapa suku indian setempat pun, nampak ramah dan baik.

Sayangnya, orang-orang inggris itu nampaknya tidak siap untuk hidup harmonis dengan suku indian yang lain. Dalam sejarah kolonialisme yang panjang, Inggris telah menunjukkan kecenderungan untuk mengambil alih sumber daya alam untuk diri mereka sendiri dan meninggalkan sesedikit mungkin untuk penduduk asli.

Hal yang serupa, terjadi kepada koloni Roanoke dengan suku Algonquin yang merupakan suku asli penghuni Carolina Utara. Nampaknya, konflik antara kedua kubu menjadi sangat panas sampai koloni Roanoke berakhir dengan membakar salah satu desa miliki suku Algonquin.

Koloni Roanoke kedua di Amerika

Hanya selang satu tahun, kelompok pemukim kedua, di bawah pimpinan Sir Ralph Lane, tiba di Roanoke pada tahun 1585. Ilmuwan-matematikawan, Thomas Harriot, dan seniman, John White, adalah dua anggota terkemuka dari kelompok ini.

Thomas Harriot diketahui sempat menggambar peta Pulau Roanoke dan membuat katalog burung dan tumbuhan lokal. Dia juga membujuk dua penduduk asli Indian, Manteo dan Wanchese, untuk mengajarinya bahasa Algonquin mereka.

Sementara itu, John White menghabiskan waktunya menggambar dan melukis keseharian suku Algonquin.

(Note :Jadi suku Algonquin ini banyak cabangnya, suku Algonquin yang berkonflik dengan koloni pertama, mungkin berbeda dengan yang ditemui oleh koloni yang kedua)

Namun, seperti kelompok pemukim pertama, antusiasme awal di pemukim segera memudar. Mereka tidak berhasil mengolah tanah dan kehabisan sumber daya yang mereka bawa. Selain itu, mereka juga tidak dapat mempertahankan hubungan persahabatan dengan penduduk asli Indian.

Setelah satu tahun, sebagian besar pemukim, termasuk Harriot dan White, siap menyerah dan hendak kembali ke Inggris. Untungnya bagi mereka, Sir Francis Drake, seorang perwira angkatan laut Inggris, sedang dalam perjalanan pulang dari Karibia saat ini.

Ketika Francis Drake mampir di Pulau Roanoke untuk mengisi kembali persediaan air kapalnya, dia setuju untuk membawa para pemukim kembali ke inggris bersamanya.

Lima belas orang memutuskan untuk tetap tinggal dan menjaga bendera inggris tetap berkibar di pulau Roanoke (Maksudnya pulau Roanoke yang sudah di klaim milik Inggris akan dijaga agar tidak diambil oleh pihak lain)

Sayang, hal ini ternyata menjadi keputusan yang buruk. Pada saat kelompok pemukim berikutnya tiba pada tahun 1587, orang-orang ‘penjaga bendera’ ini tidak lagi hidup. Para pendatang baru mengetahui dari beberapa penduduk asli yang ramah bahwa orang-orang itu telah diserang dan dibunuh oleh tetangga mereka yang bermusuhan.

Koloni Roanoke ketiga Amerika

Kegagalan sebelumnya untuk menetap di Pulau Roanoke tidak memadamkan semangat petualangan John White. Pasca kembali di Inggris, ia mulai membujuk orang untuk bergabung dengannya dan membentuk pemukiman baru di Dunia Baru.

Mentornya, Sir Walter Raleigh, serta Ratu Elizabeth I menyetujui rencana tersebut dan memproklamirkannya sebagai Gubernur baru dari pemukiman baru yang akan didirikan.

(John White)

Awal Mei 1587, John White berlayar dari Inggris dengan 115 calon pemukim. Termasuk dalam kelompok ini, adalah istrinya Tomasyn, putrinya yang baru menikah Eleanor, dan menantunya Ananias Dare.

Tujuan awal mereka adalah Teluk Chesapeake, tetapi navigator kapal nampaknya tidak setuju dan memilih untuk mengagalkan rencana itu.

Navigator tersebut, adalah seorang pelaut Portugis bernama Simon Fernandez, yang sifat pemarah dan tidak menyenangkannya telah menimbulkan ketegangan dengan para penumpang. Dia bahkan dijuluki the swine oleh yang lain karena sifatnya itu (TL : Swine artinya adalah Babi)

Ketika mereka berhenti untuk mencari air di Pulau Roanoke pada Juli 1587 dalam perjalanan ke Teluk Chesapeake, Simon membiarkan para penumpang turun di sana untuk beristirahat. Namun, dia kemudian mengumumkan bahwa dia tidak akan melanjutkan perjalanan ke Chesapeake Bay dan menolak untuk mengizinkan para penumpang kembali ke kapal.

Simon pada akhirnya meninggalkan mereka dan berlayar kembali ke Inggris bersama beberapa orang saja. Dengan demikian, orang-orang yang ditinggal itu terpaksa tetap berada di Pulau Roanoke.

Memang babi.

Kehidupan Koloni di Pulau Roanoke

Sejak awal, para pemukim membuat segalanya menjadi sulit bagi diri mereka sendiri. Kenalan John White sebelumnya, Chief Manteo, mengatakan kepadanya bahwa Dasamongueponke dan orang-orang Indian lain yang bermusuhan, diketahui telah membunuh 15 orang Inggris yang masih tinggal di pulau itu dengan brutal

Karena para pemukim datang terlambat untuk menyelamatkan 15 orang itu, mereka memutuskan untuk membalaskan dendam rekan senegaranya. Saat fajar, pada tanggal 8 Agustus 1587, mereka menyerbu dan menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai desa Dasamongueponke.

Itu adalah sikap membabi buta yang bodoh karena ternyata, desa-desa yang mereka hancurkan adalah desa milik suku indian ramah yang pada dasarnya membantu koloni-koloni sebelumnya.

Pada akhirnya, semua kawan di daratan itu berubah menjadi lawan.

(Chief Manteo adalah salah satu kepala suku dari cabang suku Algonquin yang sebenarnya ramah terhadap orang-orang kolonial)

Lebih buruk lagi, para pemukim segera menemukan bahwa persediaan mereka mulai habis; persediaan tidak mencukupi untuk bertahan hidup, terlebih memulai membangun pemukiman. Proses pengolahan ladang juga belum bisa dilakukan apabila mereka belum punya cadangan makanan untuk diberikan kepada para pekerja.

Khawatir tentang masa depan mereka di pulau itu, terutama dengan mendekatnya musim dingin, para pemukim mengadakan pertemuan dan memutuskan untuk memohon bantuan kepada Sir Walter Raleigh. Untuk tujuan ini, mereka memutuskan untuk mengirim John White kembali ke Inggris.

John White kembali ke Inggris

John White sebenarnya tidak ingin meninggalkan keluarganya. Putrinya, Eleanor, baru saja melahirkan cucunya, yang bernama Virginia Dare—dia adalah anak Inggris pertama yang lahir di Dunia Baru.

Juga, dia khawatir tentang apa yang akan terjadi pada barang-barangnya jika dia tidak ada. Setelah para pemukim meyakinkannya bahwa mereka akan merawat propertinya selama dia pergi, dia setuju untuk menjalankan misi tersebut. Pada akhirnya, John White berlayar kembali ke inggris dan meninggalkan koloni untuk mengambil persediaan.

(note : tidak ada kejelasan bagaimana dia berlayar, entah nebeng lagi dengan kapal ekspedisi seperti saat dia nebeng Sir Francis Drake, atau pada akhirnya koloni membuatkannya kapal)

Apapun itu, dia diketahui tiba di Inggris pada Oktober 1587. Kala dia sampai di inggris, dia langsung diberi kabar bahwa Ratu Elizabeth I telah melarang semua kapal Inggris meninggalkan pantai. Hal ini, dikarenakan Invasi dari Armada Spanyol sudah dekat, dan sangat penting untuk memiliki semua kapal yang tersedia untuk menghadapi serangan itu.

Itu tentu saja berita buruk karena bagi John White. Karena berarti, dia tidak akan dapat menemukan kapal persediaan untuk berlayar kembali ke Pulau Roanoke .

Sangat khawatir tentang keluarganya, White akhirnya berhasil menemukan dua kapal kecil. Namun, usahanya untuk membawa kapal itu melintasi Atlantik tidak berhasil.

Pertama-tama, kapal-kapal kecil itu tidak cocok untuk perjalanan laut yang panjang. Kedua, ketika mereka berangkat, perompak Prancis menyerang dan menjarah kapal-kapal tersebut dengan sangat mudah.

Dalam pertempuran itu, John White tertembak di pantat. Dia dan krunya entah bagaimana berhasil melarikan diri kembali ke Inggris, tetapi pembajakan itu meninggalkannya tanpa sumber daya untuk memulai perjalanan lain.

Baru pada tahun 1590, dengan bantuan Sir Walter Raleigh, dia bisa mendapatkan dua kapal, Hopewell dan Moonlight, dan akhirnya mampu melakukan perjalanan ‘yang benar’ untuk kembali ke Pulau Roanoke.

Pemukiman yang ditinggalkan di Pulau Roanoke

Setibanya di pulau Roanoke, John White mengharapkan pertemuan kembali dengan keluargnya. Sayang, apa yang dia dapati malah pemukiman itu sepenuhnya ditinggalkan.

Semua struktur telah dihancurkan atau dalam keadaan hancur. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan oleh John White dan rombongannya hanyalah kata 'Croatoan' yang diukir di batang pohon di sebuah benteng. Selain ini, tidak ada petunjuk lain tentang keberadaan para pemukim.

Karena Croatoan adalah nama suku yang bersahabat dari pulau Hatteras di dekatnya, para penyelamat berasumsi bahwa mungkin para pemukim telah pindah ke sana untuk tinggal bersama mereka. Itulah kenapa mereka sempat mencoba mencari koloni Roanoke yang hilang kesana.

Namun, karena cuaca buruk, White dan yang lainnya tidak dapat menjelajah lebih jauh, dan mereka harus kembali ke Inggris.

Ekspedisi berikutnya untuk menemukan pemukim yang hilang juga dinyatakan gagal, karena jejak koloni yang hilang sudah sepenuhnya tidak bisa ditemukan. Selama bertahun-tahun, upaya pencarian akan terus dicoba dan seluruhnya tidak menghasilkan apapun.

Berbagai teori beredar tentang bagaimana hal ini bisa terjadi. Mungkin mereka mati kelaparan atau mengalami kecelakaan di hutan belantara. Mungkin suku-suku yang bermusuhan telah menyerang dan membantai semua orang. Atau, mereka pergi untuk berintegrasi dan menikah dengan suku-suku ramah yang lebih jauh.

Mungkin juga mereka telah ditawan oleh suku-suku yang bermusuhan dan dijual sebagai budak. Selama bertahun-tahun, ada laporan penampakan orang kulit putih di berbagai kamp penduduk asli Indian, tetapi tidak ada yang bisa memverifikasi apakah ini benar.

Di zaman yang lebih modern, para peneliti telah berusaha untuk memeriksa sampel DNA yang diambil dari penduduk setempat untuk menemukan jejak pemukim kulit putih di Pulau Roanoke. Namun, sejauh ini, tidak ada yang bisa menemukan jawaban konklusif atas hilangnya misterius para koloni di Pulau Roanoke.

Sampai hari ini, misteri hilangnya koloni Roanoke, masih belum terpecahkan

Baca Juga :

Yth Pembaca,
Mohon jangan copas sembarangan artikel di blog ini, buatnya susah gan. Mengutip boleh, namun mohon sertakan sumber backlink ke blog ini. Terima Kasih

0 Response to "Colony Of Roanoke, Koloni Inggris yang Hilang Begitu saja dari pemukiman mereka pada tahun 1590"

Post a Comment