v The Holders Series Chapter 145 : The Holder Of The Harvest | UNSOLVED INDONESIA

The Holders Series Chapter 145 : The Holder Of The Harvest

From theholders.org

Translated By Admin

Di kota mana pun, di negara mana pun, pergilah ke kamar mayat mana pun, di rumah sakit manapun, yang bisa kau masuki.  Ketika kau berada di meja depan, mintalah ke resepsionis untuk mengunjungi sosok bernama  “Penjaga Panen” [The Holder Of The Harvest]

Ekspresi pegawai itu akan berubah menjadi dingin pasca mendengar permintaanmu. Kalian berdua mungkin akan terjebak dalam keheningan yang sangat canggung karena alih-alih menyanggupi apa yang kau minta, sang pegawai hanya akan berdiri di sana dan mematung.

Tunggulah beberapa saat dengan sabar. Jika kau memperhatikan, kau akan menyadari secara perlahan wajah dari pegawai itu akan mulai mengalami pembusukan. Pembusukan yang menjijikan itu akan berlangsung seperti timelapse dan akan berhenti ketika sosok yang ada di depanmu itu, akan berubah menjadi seperti mayat sepenuhnya.

Kejadian tersebut, kemudian akan diakhiri ketika sebuah bentuk transparan yang mirip seperti roh, akan meloncat keluar dari tubuh busuk sang pegawai dan mulai pergi ke sebuah lorong.

Tugasmu, adalah mengikuti roh tersebut karena dialah yang akan memandu perjalananmu. Atas alasan tertentu, The Holder Of Harvest menolak tubuh fisik para Seeker dalam perjalanan untuk menemukan obyeknya. Bersamaan dengan itu, ketika kau mengikuti roh sang pemandu, hanya proyeksi astral-mu saja lah yang akan bergerak.

Jangan khawatir, meskipun kau sekarang terpisah dari tubuhmu, namun tubuh fisikmu akan aman di aula tempat resepsionis berada. Janji The Holder Of The Harvest bagi para Seeker yang menginginkan obyek miliknya adalah, setiap siksaan dan rasa sakit hanya akan dia berikan kepada roh atau tubuh astral dari para Seeker yang datang—Sedikit yang kau tau, bahwa siksaan yang menghancurkan jiwamu akan berkali-kali lipat lebih menyakitkan dibanding yang melukai fisikmu.

Ikutilah roh yang memandumu dengan kecepatan yang sama dan jangan sampai tertinggal. Kau mungkin akan menyadari bahwa ketika dia mengambil jalan untuk menembus tembok, kau juga akan mampu melakukannya.

Perjalanan kalian, akan melambat ketika kalian melewati sebuah ruangan besar yang berada jauh di dalam institusi. Ruangan tersebut, akan nampak seperti museum dengan banyak kotak kaca besar yang menghiasi.

Kau harus tau bahwa ruangan itu sebenarnya tidak memiliki wujud fisik sehingga kau tidak akan bisa mencapai tempat itu apabila kau datang dengan menggunakan tubuh aslimu. Namun karena kau sekadang sedang dalam bentuk astral, kau dapat berinteraksi dengan segala hal yang ada di ruangan itu secara leluasa.

Sayang “museum” tersebut tidaklah seperti tempat wisata dimana kau akan melihat hal-hal yang baik. Alih-alih, museum tersebut akan menampilkan pameran perang dan penyakit, gambar-gambar bergerak tentang pembunuhan dan pemerkosaan, serta kejadian kejadian biadab yang sangat mengerikan dan pilu.

Disatu sudut, kau akan melihat diorama yang menampilkan seorang ibu meratapi putra mereka yang meninggal. Disudut lain, kau akan melihat diorama seorang ayah yang memutilasi diri mereka sendiri karena putri mereka telah diperkosa dan dibunuh.

Bentuk-bentuk kengerian yang seakan tak ada habisnya, akan melapisi dinding, langit-langit, dan lantai tempat itu secara menyeluruh. Setiap benda yang bersangkutan dengan kengerian-kengerian yang terjadi, ditampilkan dengan penjelasan yang sangat rinci dan detail yang akan membuat siapapun yang membacanya akan muntah.

Tentu museum “menakjubkan” itu akan membuat sebagian orang ketakutan, sementara sebagian lagi (mungkin) akan terpesona. Entah beruntung atau sial namun, museum tersebut bukanlah tujuan akhirmu disini. Roh pegawai yang memandumu, akan terus bergerak seakan mengisyaratkan bahwa kalian “hanya lewat” di tempat itu, dan kalian harus bergerak lebih jauh untuk mencapai tempat yang harus dituju.

Sang roh pemandu jalan, akan terus melesat menembus dinding dan pintu secara terus menerus. Disuatu titik, dia bahkan akan mempercepat lajunya seakan mencoba meninggalkanmu. Tentu apapun yang terjadi, kau tidak boleh tertinggal kalau kau tidak mau tersesat disana, dan terjebak di dalam mode astral untuk selamanya.

Setelah perjalanan yang akan seperti seharian penuh, kau akan mendapati dirimu berada di hamparan ladang gandum yang luas. Di tempat itulah, roh yang memandumu akan meninggalkanmu.

Di tempat tersebut, kau tidak akan dapat berlari menembus bangunan lumbung ataupun benda apapun. Hal tersebut, menunjukkan bahwa ladang tersebut sepenuhnya adalah astral atau ghaib, sama sepertimu dan kalian dapat berinteraksi.

Di tengah hamparan gandum yang luas, kau akan mampu melihat sosok berjubah hitam yang nampak menari-nari dengan anggun. Ketika kau mendekatinya, kau akan menyadari bahwa dia bukanlah menari, melainkan tengah memanen gandum dengan sebuah sabit yang besar.

Perhatikanlah cara dia menyabit gandum dengan alat yang dia pegang. Tidak perlu ada yang menjelaskan agar kau tau bahwa dia terlihat sangat terampil dengan pekerjaannya tersebut.

Tunggulah dia, dan janganlah menginterupsi ketika dia sedang bekerja. Ketika dia memutuskan untuk menghentikan kegiatannya untuk sejenak, dekatilah dia dan tanyakan satu pertanyaan : “Dimanakah pekerja lain di ladang ini?”

Sosok itu akan menoleh kepadamu dan akan sedikit terkejut dengan keberadaanmu ditengah ladang gandumnya. Meskipun begitu, dia kemudian hanya akan tertawa mengejek sembari menjelaskan bahwa hanya dia lah yang bekerja disini.

Menatapmu, dia akan bertanya apakah kau datang untuk meminta obyek yang dia jaga. Jawablah dengan mantap bahwa memang itulah tujuanmu kemari. Pria berjubah, atau Sang Holder, hanya akan menghela nafas dalam.

Detik berikutnya, dia kemudian akan duduk di tempatnya berdiri dan mempersilahkanmu duduk juga. Setelah kalian duduk saling berhadapan, dia akan menceritakan kepadamu tentang sebuah kisah.

Itu, adalah kisah yang mendahului bumi itu sendiri. Kisah tentang bagaimana kematian terjadi dan kenapa konsep “mati” adalah bahasa universal bagi setiap makhluk yang memiliki nyawa. Sang Holder, kemudian akan menjelaskan tentang bagaimana “mati”, itu ibarat memanen gandum menggunakan sabit. Semua harus tepat waktu dan tidak boleh sembarangan. Ketika musim panen, akar dan batang akan ditinggal sementara biji gandum akan dipilah dan dibawa pergi.

Sang Holder, kemudian akan menjelaskan bahwa akan ada konsekwensi apabila kau, seorang Seeker meminta atau bahkan merebut Obyek yang dia jaga. Mengatakan bahwa ladang gandum ini harus dirawat, dipanen dan ditanami kembali agar keseimbangan tetap terjaga.

Sekarang, semua terserah padamu. Sang Holder jelas tidak akan memberikan obyeknya begitu saja sehingga kau harus merebutnya secara paksa dengan kekerasan.

Dalam pertarungan kalian di ladang gandum tersebut, setiap pergelutan dan manuver yang membuat satu pohon gandum patah atau rusak, akan berakibat buruk kepada nyawa seseorang yang ada di bumi. Jadi hati-hatilah.

Sabit itu adalah Obyek 145 dari 538.

Sang Holder sangat tidak suka disebut dengan sebutan “Dewa Kematian”, dia lebih suka dipanggil sebagai “Farmer” atau Petani. Berhati-hatilah dengan tebasannya yang kuat karena dia bisa membunuhmu dalam sekali tebas. Literally.

Baca The Holders Series Lainnya

Yth Pembaca,
Mohon jangan copas sembarangan artikel di blog ini, buatnya susah gan. Mengutip boleh, namun mohon sertakan sumber backlink ke blog ini. Terima Kasih

0 Response to "The Holders Series Chapter 145 : The Holder Of The Harvest"

Post a Comment